D. Produksi
Produksi film berbeda dengan produksi Sinetron atau FTV. Produksi film memerlukan pra-produksi yang detail karena biaya produksi film sangat mahal (bayangkan 1 can film 35 mm berdurasi 4 menit harganya Rp. 4 juta dengan sewa peralatan perhari mendekati Rp. 10 juta)
Tahap pengembangan (creative development), meliputi pembuatan dan pendistribusian proposal dan penyusunan scenario.
- Sinopsys ditulis dan Judul ditentukan
- Skenario ditulis atau ditulis ulang lalu dilakukan beberapa kali revisi, sebelum akhirnya dianggap sebagai skenario final
- Skenario final diserahkan kepada sutradara, lalu sutradara menentukan treatment untuk masing scene
- Skenario di bedah, ditentukan lokasi, talent, set property, wardrobe, make up dengan memperhatikan kontinuitas cerita
Tahap pra-produksi, menurut Mira Lesmana tahap ini merupakan tahapan yang paling penting dalam produksi film. Dalam tahap ini, disusun strategi untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi pada tahap kegiatan produksi. Adapun kegiatan di tahap ini adalah
- mencari lokasi dan property, mendapatkan kepastian waktu lokasi dan property tersebut bisa dipakai. Lokasi sebaiknya saling berdekatan satu sama lain dengan jumlah scene per lokasi minimal 15 scene. Untuk lokasi outdoor, perlu diantisipasi bila cuaca hujan, apakah ada pembangunan set dan lain-lain. Property dibreakdown dan di buat list, dikelompokkan mana yang dibeli, dibuat dan atau dipinjam. Lokasi dan property harus sudah diatur sedemikian rupa hingga dapat digunakan pada saat pengambilan gambar, dengan mempertimbangkan jadwal yang kemungkinan molor
- recruitment crew yang diperlukan untuk syuting, walau crew yang dipilih sudah berpengalaman, breakdown peralatan (listing) dan technical meeting harus tetap dilakukan hingga seluruh crew dinyatakan solid dan peralatan dinyatakan komplit
- wardrobe, make up dan support department juga sudah harus diatur sedemikian rupa
- perhitungan durasi pengambilan gambar harus sudah dihitung secara matang dengan membuat antisipasi terhadap kendala yang mungkin dihadapi,
- pembuatan storyboard penting untuk mengetahui blockin camera pada saat pengambilan gambar
- Semuanya perlu dicatat secara akurat, agar proses pengambilan gambar dapat selesai tepat pada waktunya. Bila waktunya ‘molor’ budget untuk pembiayaan bisa membengkak. Jadi semakin matang pra-produksi maka tahap produksi semakin lancar. Sering kali pula, tahap pra-produksi memakan waktu satu setengah sampai dua kali lebih lama dibandingkan proses produksinya. Pra-produksi yang matang berpengaruh baik pada keseluruhan kegiatan produksi.
Jangan lupa, booking jadwal tayang sebaiknya sudah dilakukan pada tahap pra-produksi ini, tanggal mulai dan jumlah layar yang dibooking sudah harus diperoleh dan kontak dengan pihak Blitz dan 21Cineplex dilakukan terus menerus mengikuti progress produksi
Tahap produksi adalah tahap pengambilan gambar, sebagaimana yang telah direncanakan dalam tahap pra-produksi
Tahap pasca produksi, pada tahap ini film disunting, agar gambar-gambar sesuai tepat dengan jalan cerita dan scenario. Setelah selesai disunting lalu dikirim ke lab kemudian di duplikasi. Bila pengambilan gambar tidak menggunakan kamera seluloid, maka sebelum didistribusikan film harus di blow-up terlebih dahulu ke format seluloid lalu digandakan. Biaya penggandaan berkisar 12 juta per copy, jumlah copy disesuaikan dengan seberapa yakin film tersebut akan sukses dan segmen penonton yang dituju
B. Distribusi, promosi dan sponsor.
- Distribusi melalui management 21Cineplex atau BlitzMegaplex atau dapat dilakukan sendiri ke jaringan bioskop yang lebih kecil. Untuk film “Juara” karena target utamanya adalah bioskop 21, maka distribusi dilakukan melalui jaringan 21. Prosedurnya sebagai berikut :
· Berkirim surat ke 21Cineplex attention Bp. Sunaryo, menerangkan bahwa kita sedang produksi film :
o Berjudul :
o Genre :
o Bintang / Pemeran :
o Tgl mulai shooting :
o Film selesai tgl :
o Tgl siap edar :
o Melampirkan synopsis
· Setelah itu pihak 21 akan mengatur jadwal penayangan atau dilakukan diskusi untuk negosiasi tanggal penayangan - Dalam mempromosikan film, umumnya pembuat film mengandalkan sponsor. Sama dengan kasus Nagabonar Jadi 2, Deddy Mizwar dan Kafi Kurnia melakukan promosi dengan budget nol rupiah. Mereka menghubungi perusahaan yang memiliki cukup banyak billboard, untuk dipinjam menjadi billboard sementara film. Perusahaan seperti ini kebanyakan adalah perusahaan rokok, telekomunikasi, dan juga bank. Nasib Nagabonar Jadi 2 cukup beruntung, mereka berhasil menjalin kemitraan dengan Telkomsel dan Bank Bukopin. Bantuan dan dukungan kedua sponsor ini tak ternilai harganya.
- Untuk mendapatkan sponsor yang memberikan dana dalam bentuk tunai, biasanya sudah disiapkan proposal khusus yang sudah menjelaskan benefit apa yang didapat oleh sponsor sesuai dengan nilai sponsorship yang dikeluarkan. Bila benefit tersebut dalam bentuk built in product promotion, maka sudah dijelaskan jumlah scene-nya, pada scene ke berapa dan bagaimana kemasannya.

Geen opmerkingen:
Een reactie posten